Guru Membakar Seragam Murid

seragam dibakarApakah sudah benar seorang guru membakar baju seragam muridnya ???

Adik saya dibintuni dikenakan sanksi. Karena baju seragamnya ada tulisan nama (dibagian bawah bajunya). Padahal hal serupa juga dilakukan oleh beberapa kawan di sekolah tersebut. Memang saya akui yang dilakukan adik dan teman-temannya itu tidak benar.

Namun apakah harus dengan cara di bakar baju seragamnya ?
Apakah tidak ada pendisiplinan yang lain yang patut dicontohkan pada murid-muridnya ?
Guru seharusnya mendidik dengan cara yang pantas, bukan dengan cara kekerasan seperti itu. Bayangkan kalau baju seragamnya di bakar, trus adik saya itu terpaksa pulang dengan tanpa baju seperti “maling” tertangkap basah ?

Kalau mau mendisiplinkan anak,kenapa tidak seluruh murid yang melakukan hal yang sema, diberi sanksi yang sama pula ? Atau bakar diddepan seluruh murid agar mereka semua tau “disiplin” yang dilakukan oknum guru tersebut. (Walaupun itu cara yang tidak “manis”). Ini justru baju adik saya itu dibakar oleh teman lain krn disuruh oleh sang guru usai pelajaran sekolah berakhir.

Ini bukan pertama kalinya guru melakukan hal yang semena- mena terhadap adik saya atau bahkan mungkin beberapa murid lain.

Adik saya juga pernah merasakan rambutnya digunting acak-acakan/asal-asalan oleh sang guru dengan alasan rambutnya gondrong. Padahal baru 1 minggu sebelumnya adik saya itu potong rambut di tukang pangkas rambut.

Orang tua mana yang tidak geram atas kelakuan tidak terpuji oleh oknum guru tersebut.

Adik saya bisa dibilang “bandel” karena kebanyakan anak berumur remaja suka ikut-ikutan teman-teman di sekolahnya. Tetapi sangat tidak pantas seorang guru melakukan tindakan disiplin dengan cara membakar baju seperti itu. Mau jadi apa mental anak didiknya kalau memberikan conto-contoh kekerasan seperti itu.

Kenapa tidak menggunakan cara-cara yang lebih elegan, misalnya mengirimkan surat panggilan kepada orang tua, masalahnya yang terjadi kebanyakan orang tua tidak tau kesalahan apa yang dilakukan anaknya di sekolah apabila tidak ada pemberitahuan dari pihak sekolah. Kalau pihak sekolah/guru dan orang tua murid bisa berkomunikasi dengan baik saya rasa hal-hal seperti diatas tidak perlu sampai terjadi.

Sudah bukan jaman nya lagi anak-anak diberikan sanksi kekerasan. Anak jaman sekarang lebih mudah diingatkan atau diberitau dengan cara komunikasi terbuka bukan dengan cara kekerasan.

Adik saya Erwin Azizie, SMPN 1 Bintuni Papua Barat.

Semoga ini bisa menjadikan wacana untuk kita semua.

** Gambar adalah hasil unduhan bukan seperti kejadian sebenarnya.

Jantung Bocor Pada Bayi Dan Anak-Anak

Kebocoran jantung pada anak-anak pada umumnya terjadi akibat bawaan sejak lahir. Artinya pembentukan jantung sudah terjadi pada masa awal pembuahan bahkan mungkin sebelum si ibu sadar dirinya tengah hamil. Dan pada masa-masa itulah si jabang bayi sudah mengalamai gangguan pada jantungnya, dimana katub jantung tidak tertutup secara sempurna.

Kebocoran jantung bawaan pada anak-anak biasa terjadi pada saat trimester/tiga bulan pertama kehamilan. Penyebabnya adalah antara lain : Ibu yang terpapar sinar rontgen (x-ray) saat hamil, trauma fisik dan psikis, minum jamu-jamuan atau pil kontrasepsi (Dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K)).

Ada dua jenis PJB (Penyakit Jantung Bawaan), yaitu PJB biru (sianotik) dan PJB tidak biru (asianotik). PJB biru bisa dikenali dengan mudah yakni ujung-ujung kuku, bibir dan lidah berwarna biru. (Kompas Health)

Sedangkan PJB tidak biru gejalanya tidak langsung terlihat.”Biasanya baru dicurigai PJB kalau anak gampang sakit, berat badannya tidak naik-naik, susah minum susu, atau gampang kelelahan,” papar dr.Poppy S.Roebiono, Sp.JP (K), ahli jantung anak dari RS.Harapan Kita Jakarta.

Untuk kasus tertentu kebocoran jantung pada anak bisa menutup dengan sendirinya sejalan dengan bertambahnya umur si anak. Namun sebaiknya orang tua tetap melakukan pemeriksaan ke dokter spesialis jantung untuk dilakukan pemeriksaan lebih spesifik agar diberikan jalan keluar terbaik untuk sang buah hati.

Bagi anak yang mengalami kebocoran jantung sebaiknya tidak mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung penyedap rasa. Apalagi sekarang banyak sekali makanan jajanan anak-anak yang banyak mengandung penyedap rasa.

 

Baca juga artikel lain klik dibawah ini :

Kista Jenis Dan Macamnya

Tanda-Tanda Kehamilan Awal

Gejala Kista Dan Cara Pengobatannya

Kecerdasan Emosional Anak

Ngorok Atau Mendengkur Pada Anak

 

 

Dampak Baik dan Buruk Pacaran Usia Remaja

 

dampak baik buruk pacaran usia dini

kecil-kecil kok pacaran

Menurut Tara de Thouars, pacaran pada usia remaja atau usia dini memiliki dampak baik dan buruk. Hal ini perlu diketahui oleh kedua orang tua dan anak sendiri.

Dampak Positif

1. Lebih mengenal diri sendir dan orang lain kerena anak memiliki kedekatan dengan orang lain secara tidak langsung. Ia juga akan lebih mengetahui apa yang dibutuhkan dan diinginkan khususnya terhadap orang lain. Efeknya mereka akan belajar untuk memahami diri sendiri dan orang lain melalui hubungannya dengan orang lain.

2. Anak akan bertanggung jawab kepada diri sendiri dan orang lain. Pasalnya, ketika mulai berpacaran mereka harus mengambil tanggung jawab tidak hanya untuk diri sendiri melainkan juga orang lain.

Meski disatu sisi, anak belum memahami dirinya dan dapat menjalankan tanggung jawabnya dengan sepenuhnya, ia harus belajar bertanggung jawab terhadap orang lain, memahami apa yang orang lain butuhkan, dan belajar untuk tidak memikirkan diri sendiri.

 

Dampak Negatif

1. Ketika terlibat terlalu dalam dapat mempengaruhi kehidupan dan kewajibannya sebagai anak, selain mendapatkan hal menyenangkan, tidak jarang pula banyak anak yang terlibat terlalu dalam dengan hubungan pacarannya sehingga mengganggu kehidupan dan kewajiban sebagai anak, termasuk kewajiban untuk sekolah.

Selain itu banyak anak juga yang terlibat terlalu dalam secara emosional sehingga mengganggu perkembangan psikologisnya.

2. Terlalu cepat matang sebelum usianya. Artinya, ketidakpahaman anak akan arti dan manfaat pacaran yang sebenarnya dapat membawa anak terjerumus atau mengalami hal-hal yang seharusnya belum dialami oleh anak-anak. Dengan pacaran anak akan dituntut untuk lebih cepat dewasa oleh pasang surut (suka-duka) hubungan dengan pasangan serta kontak fisik yang sudah melewati batas yang seharusnya.

** Tara de Thouars, BA, M.Psi adalah psikolog dari Sanatorium Dharmawangsa
source : tabloid nova

Baca juga artikel lain disini :

Ngorok Atau Mendengkur Pada Anak

Kecerdasan Emosional Anak

Pentingnya Inisiasi Menyusui Dini

Jajanan Anak Mengancam Kesehatan


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.